Bahagia yang Tidak Sengaja

Pernah terpikir sebuah cuitan How you build a career is not always how to end a career hanyalah sebuah ilusi. “Halah, ini untuk jiwa jiwa yang tidak kuat akan kekerasan dunia kerja” dalam tanyaku di masa idealisku. Namun, pada akhirnya, saat aku yang mengalami hal tersebut, saat itu juga aku merasa inilah jalanku, disinilah aku bahagia, inilah passionku, dan dalam hati berkata “Inilah yang kucari dari dulu”.

bahagia yang tidak sengaja

Berawal dari aku yang masih bimbang akan menentukan kemana langkahku pergi. Dari pemilihan kuliah, mata kuliah yang kucari, hingga saat kerja praktik dan skripsi. Selalu ada tanya dalam hati, apakah ini yang aku cari? Untuk kebanyakan orang, ketika memilih jurusan saat kuliah, itulah saat dimana tempat melangkah. Namun, tidak denganku. Bagiku, ini hanya jalan awal untuk mencari.

Keinginan orang tua

Setelah lulus kuliah, melihat keinginan orang tua yang sangat menggebu-gebu agar anaknya bisa masuk ke perusahaan migas, kulangkahkan niatku untuk mencoba hal tersebut. Senang? Iya, aku masuk di salah satu perusahaan migas di dunia, pasti dong aku senang bisa masuk kesana. Puas? Iya, karena aku bisa membahagiakan orang tua. Bahagia? Setelah kulakukan niatku untuk bekerja di tempat tersebut, tidak ada kata “bahagia” terucap ataupun terukir dari semua kerja kerasku. Jadi, apa yang kulakukan? Aku resign dari tempat tersebut, mencoba untuk ambil kuliah lagi, untuk menyenangkan orang tua dan memberikan waktu untuk mencari apa yang bisa membuat aku “bahagia” di hidupku.

Long story short, akhirnya aku lulus kuliah ini. Aku mencoba kembali kemana langkahku pergi. Aku masuk ke salah satu perusahaan design fasilitas migas terpandang di Indonesia. Kembali, 3 pertanyaan itu muncul dalam benakku, apakah aku senang? apakah aku puas? apakah aku bahagia? Well, tidak semudah itu ferguso, semakin kutanya semakin jawaban “tidak” muncul dan akhirnya aku memutuskan untuk resign dari tempat tersebut.

Bahagia yang tidak sengaja

Next, masuk ke dalam lingkaran korporat penjual limun. Saat itu, ditawarkan 2 pilihan, ingin menjalankan kembali expertise di design manufaktur ataupun mencoba hal baru di bagian digitalisasi. Never know that someone like me can “try” that space. Tapi sebagai anak yang punya expertise di design, kenapa tidak ambil di design manufaktur? Aku mencoba untuk membuat mereka memilih aku di design manufaktur. Apa yang dibayangkan tidak terjadi, mereka malah menempatkan aku di bagian digitalisasi. Perasaan aku? Kenapa harus ini? Belajar lagi dong dari 0? Yep, aku belajar lagi dari titik 0.

Di space baruku ini, aku benar benar belajar dari 0, bagaimana mencari keluh kesah, bagaimana membuat produk, apa metrics yang dikejar dari sebuah produk, bagaimana cara mengenalkan produk kepada orang, dan apa yang dilakukan setelah produk itu rilis. Aku pun kerja keras untuk belajar di sini.

Akhirnya, produk yang aku buat rilis secara luas di seluruh Indonesia, dan ternyata aku mendapatkan beberapa email dari leaders dan pengguna produk akan betapa senangnya akan adanya produk yang kubuat. Kemudian, foto mereka yang senyum akan adanya produkku membuat aku mendapatkan jawaban akan apa yang kucari. Senang, puas, dan bahagia bisa kudapatkan dari satu buah senyuman pengguna dan ditemukan secara tidak sengaja.

Bagi kalian yang masih bingung apa yang kalian kerjakan, jalani kehidupan bagaikan air, kalian pasti akan temukan apa yang kalian harapkan.

-sugab-

Baca Juga:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments