Derita Membawa Berkah

Tidak perlu waktu lama setelah lulus kuliah, aku langsung diterima dalam program Management Trainee salah satu perusahaan bank swasta di Jakarta. Selama hampir 1,5 tahun aku menjad trainee, aku selalu mendapatkan tempat internship dengan lingkungan menyenangkan, vibes positif, senior yang supportif, serta bos yang mengayomi. Tapi itu semua berubah saat penempatan, dimana dunia kerjaku yang sesungguhnya baru dimulai…

Aku dan satu teman angkatanku ditempatkan di salah satu divisi yang berhubungan dengan reksadana. Divisi yang tidak aku pilih sama sekali bahkan aku tidak kepikiran apa yang dilakukan di divisi ini? Tapi aku mencoba untuk stay positive terlebih aku juga tidak sendiri di sana.

Meski demikian aku bisa merasakan adanya aura negatif disana, jujur saja senior disana sangat baik dan welcome dengan kedatangan aku dan temanku, tapi aku bisa melihat aura kesuraman di diri mereka. Benar saja, baru 1 bulan aku disini, aku bisa bilang tempat ini adalah neraka dunia???

Photo by Nikita Kachanovsky on Unsplash

Atasanku adalah seorang Ibu yang sudah sangat berpengalaman dan cukup dikenal di institusi luar karena keterampilannya. Tapi, beliau masih sangat kolot dan masih berpegang teguh prinsip “njawani”, dimana semua staffnya harus tunduk dengan dia, attitude benar-benar harus sesuai tata krama, dan banyak hal yang dilarang.

Beberapa kondisi di lingkungan kerja yang kuingat saat itu:

  1. Di meja kerja tidak boleh ada barang lain selain peralatan bekerja termasuk botol minum dan cermin.
  2. Tidak diperkenankan menggunakan tambahan stop kontak, sehingga jika ingin charge hp harus pergi ke beberapa tempat yang disediakan.
  3. Dilarang mengobrol apalagi sampai tertawa terbahak-bahak.
  4. Sekalipun di kantor ada jam makan siang selama 1 jam, di tempat ini makan siang harus di-shift dan tidak bisa sampai 1 jam.
  5. Di jendela kantor menggunakan UV Filter berwarna hitam gelap jadi kondisi kantor sangat “dark” tidak tahu kapan siang dan malam.

Bagaimana? Sudah cukup terbayang kah penderitaanku? Itu semua di luar pekerjaan yang tidak ada habisnya serta omelan-omelan dari sang Bos. Karena kondisi-kondisi tersebut, aku juga jadi jarang bersosialisasi karena memang tidak ada waktunya. Jujur saja aku sangat tidak kuat, sempat terfikirkan untuk melapor ke HRD namun aku ingat atasanku sudah mewanti-wanti kalau dilarang bercerita tentang divisi ini ke siapapun.

Di saat itu aku hanya bisa bercerita dengan teman yang ditempatkan di divisi yang sama denganku, yang pastinya juga senasib denganku. Tidak disangka, nasib buruk yang menimpa kami ternyata menjadi awal mula rasa nyaman yang timbul diantara kami. Akhirnya kami memulai sebuah hubungan, yang pastinya backstreet, karena jika ketahuan oleh bos kami pasti akan dimarahi.

Hari-hari berlalu seperti biasanya, namun kami seperti memiliki kekuatan yang lebih. Akhirnya kami memberanikan diri untuk bercerita ke HRD dan meminta untuk mutasi. Setelah 1 tahun ditempatkan di divisi itu, akhirnya aku mutasi ke bagian kartu kredit, dan temanku ke bagian funding 1 tahun berikutnya. Setelah insiden kami, tidak ada anak baru dari Management Trainee yang ditempatkan di divisi tersebut.

Alhamdulillah meskipun menyakitkan dan melelahkan, pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita dari kehidupanku yang kini telah berkeluarga dengan temanku ini 🙂

Kategori: Awal Karir / Drama Kantor

Baca Juga:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments