“Hello World” Membawaku ke Benua Eropa

Hello World

Begitulah kira-kira teks yang terpampang di halaman browser saya. Dengan bermodalkan laptop kusam, koneksi internet yang saya tether dari HP, dan selembar file html yang saya tulis dengan notepad.

Perasaan campur aduk antara rasa kagum, heran, dan ragu lah yang saya rasakan. Bagaimana tidak, saya tidak tahu apa-apa soal teknologi internet. Saya hanya sekedar pengguna internet, sama seperti kebanyakan orang.

Flashback…

Saya adalah seorang fresh graduate dari jurusan teknik di sebuah universitas di Bandung. Syukur, saya bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang relatif cepat, bahkan sebelum saya di wisuda. Saya diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta untuk posisi Technical Sales Engineer. Itu kira-kira kerjanya ngapain ya? Saya tidak tahu, yang penting ada engineer nya. Lima bulan berlalu, saya masih tidak paham apa yang saya lakukan dengan pekerjaan saya. Kadang saya harus presentasi produk, kadang saya harus (ikut) meeting dengan pejabat perusahaan/pemerintahan, kadang juga saya diminta untuk menerjemahkan dokumen dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, atau sebaliknya. Tidak masalah, selama bayarannya sesuai.

Suatu malam, sepulangnya saya dari kerja, saya menyempatkan diri untuk menonton film “The Social Network”, film mengenai kisah dibalik Facebook, perusahaan media sosial terbesar di dunia. Film ini menyadarkan saya betapa besar dan menguntungkannya industri teknologi internet. Merasa terinspirasi, saya memberanikan diri untuk memulai belajar coding dan memperkenalkan diri saya pada istilah “Hello World”. Tidak sedikitpun terpikirkan bahwa ini akan menjadi momen paling krusial dalam hidup saya.

Dua bulan kemudian, pekerjaan di kantor semakin tidak jelas. Semakin banyak waktu luang yang sering saya manfaatkan untuk belajar coding. Hingga suatu hari atasan saya menganjurkan saya untuk segera mencari pekerjaan baru karena mereka merasa role saya tidak begitu diperlukan saat ini. Tentunya mereka tidak langsung memecat saya karena mungkin merasa kasihan dengan saya yang harus mencari pekerjaan baru dalam waktu singkat. Dengan kepercayaan diri seadanya, saya mengajukan resign saat itu juga

Saya resmi menganggur. Akhirnya punya banyak waktu, setiap hari, untuk belajar coding. Ya, saya melakukan itu (hampir) setiap hari, 12-14 jam. Memang melelahkan, tetapi saya percaya bahwa semua ini tidak akan sia-sia. Meskipun saya sangat butuh pekerjaan, dengan tabungan yang sudah semakin menipis, ditambah lagi tuntutan orang tua yang terlihat sangat kecewa melihat anaknya “menganggur” dan hanya “bermain” komputer setiap harinya, saya memutuskan untuk bersabar dulu karena saya rasa ini saat yang tepat untuk mengubah nasib saya.

Tiga bulan sudah saya tidak berpenghasilan. Akhirnya saya berhasil mempersiapkan portofolio sederhana untuk melamar pekerjaan. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya coba melamar untuk pekerjaan developer yang saya temukan di internet. Tidak lama setelah itu saya menerima undangan interview dari beberapa perusahaan, namun tidak ada satupun perusahaan yang mengundang saya ke tahap selanjutnya.

Saya putus asa. Merenung tentang keputusan yang telah saya ambil, berpikir untuk menyerah dan kembali bekerja sesuai keahlian saya, tetiba sebuah nomor tidak dikenal menghubungi saya… Telepon berlangsung selama kurang lebih 5 menit dan saya resmi diterima di sebuah perusahaan agensi di Bali sebagai Full Stack Developer. Dengan perasaan yang tidak mampu saya deskripsikan, tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk segera berangkat ke Bali.

Banyak sekali cerita di Bali yang sayangnya terlalu panjang untuk diceritakan di sini. Singkat cerita, saya hidup bahagia di Bali, dengan pekerjaan yang sangat saya sukai. Berdomisili di Bali, saya manfaatkan untuk membangun relasi dengan turis asing yang bekerja di bidang yang sama. Ketika di bangku kuliah saya bermimpi untuk bisa bekerja di luar negeri, terutama Eropa. Meski sempat terlupakan karena realita, saya rasa ini adalah momentum yang tepat untuk mengejar mimpi itu kembali.

Fast forward…

Tidak sabar rasanya menantikan musim panas kedua saya di Eropa. Sementara itu saya mencoba untuk tetap bisa menikmati indahnya musim semi meski udara masih cukup dingin.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menginspirasi 🙂

I once typed “Hello World” for the first time and now it’s time to actually say…

Hello, World!

– Feezle

Baca Juga:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments