Impostor Syndrome Atau Memang Tidak Bisa?

Keberhasilan pindah kerja dari manufaktur ke bidang tech tanpa ada background IT sedikitpun rupanya bukan akhir dari perjuanganku. Setelah berjuang masuk, terbitlah perjuangan baru yang harus dilalui: mempelajari technical skills dari 0.

Pengalaman kerja dan impostor syndrome
Photo by Elisa Ventur on Unsplash

Sebagai seorang lulusan non IT, semua hal yang berhubungan dengan IT adalah baru bagiku. Bahkan banyak yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Tidak ada mata kuliah algoritma dan struktur data di jurusanku. Paling banter adanya komputasi numerik, dan itupun hanya sekilas banget 2 sks doang. Matkul auto A kalo orang bilang, saking basicnya yang diajarkan.

Memulai dari 0

Tapi aku sadar, kalo mau pindah kerja ya harus belajar. Jaman sekarang, belajar apapun sangat gampang. Banyak sekali sumber di internet bertebaran dari yang berbayar hingga yang gratis. Kalau saat itu aku ada budget, aku pasti ambil bootcamp agar kurikulumnya jelas, terlebih aku super buta arah saat itu. Sayang sekali saat itu aku tidak ada budget dan tidak ada waktu karena aku masih kerja di perusahaan lama. Terpaksa aku belajar secara otodidak, mencari-cari materi sendiri dan membuat-buat kurikulum sendiri.

Walau lama dan tidak terlalu terstruktur, pada akhirnya aku berhasil mempelajari mengenai data, bidang yang memang aku incar. Dibantu dengan aku langsung dicemplungin ke project data membuat proses belajarku menjadi lebih cepat. Namun muncul masalah baru: aku tidak yakin apakah semua yang aku pelajari ini benar dan sedalam apa aku harus belajar. Aku masuk ke kuadran ‘I don’t know what I don’t know’.

Knowledge window

Memulai kerja sebagai professional impostor

Berlanjut saat aku diterima kerja sebagai Data Analyst. Bisa dibilang aku sangat beruntung, temanku memberikan kepercayaan untuk aku menjadi timnya walau aku tidak punya experience data analyst sebelumnya. Tidak mau mengecewakan, aku terus belajar technical mengenai data. Berbagai course aku ikuti, ratusan materi aku pelajari karena aku merasa skillku masih super dangkal. Namun semakin aku belajar, semakin aku merasa insecure. Semakin aku merasa tidak bisa apa-apa walau sebetulnya aku dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik-baik saja.

Background pendidikan yang tidak linier tentu memberikan kontribusi besar terhadap munculnya rasa insecure ini. Terlebih aku kepo dengan team member sebelumku yang aku gantikan, semuanya lulusan kampus ternama T_T (kepo memang pangkal galau guys). Semakin insecure diri ini.

Berbagai cara aku coba untuk menghilangkan rasa insecure ini, mulai dari latihan coding-codingan di hackerrank dan leetcode (dengan maksud aku jadi lebih percaya diri karena bisa menyelesaikan soal), namun malah jadi semakin down ketika menemukan soal yang tidak bisa aku kerjakan. Bahkan aku sampai mengikuti technical test recruitment walau tidak dengan niat mencari kerja, berharap agar dapat sedikit rasa percaya diri kalau lolos. Untungnya aku lolos dan ini cukup membantuku menghilangkan sedikittttttttt rasa insecureku.

Belakangan aku tau bahwa rupanya fenomena ini cukup lumrah. Fenomena ini dikenal sebagai Impostor Syndrome. Setelah aku baca lebih lanjut mengenai Impostor Syndrome, sekarang muncul pertanyaan baru bagiku:

Baca Juga:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments