Kadang Desas-Desus Itu Benar Adanya

Setiap tempat kerja pasti ada gak sih yang namanya desas-desus? Sakin banyaknya sampai gak tau mana yang benar mana yang fitnah, mana yang harus dipercaya, mana yang gak. Banyak orang bahkan menjadikan rumor di tempat kerja sebagai sebuah entertainment untuk makan siang. Tapi beda dengan kisah ku ini, desas-desus menjadi mimpi buruk berujung kenyataan.

Desas-desus sekitar

Saat itu karena adanya perubahan pembagian kerja, aku dipindahkan ke team lain dan entah mengapa banyak sekali desas-desus tidak enak terdengar terkait leader dari team ini. Ada yang bilang dia galak, penjilat, bermuka dua dan manipulatif, sampai adanya omongan kalau dia ‘pintar tapi licik’.

Ketika dipindahkan ke team ini, aku banjir dengan wejangan dan peringatan dari teman-teman kantor ku, terkait dengan si team leader. Heran sekali, seakan-akan aku akan masuk kandang singa. Tapi sebagai lulusan fresh graduate dan di kantor ini adalah pengalaman pertama kali kerja, aku memilih untuk optimis dan tidak mau percaya dengan desas-desus yang ada jika aku belum merasakannya sendiri.

Selang seminggu di team A, aku merasa tidak ada yang separah itu kok dengan team leader ini. Memang kadang galak, tapi menurut ku masih masih professional dan dalam batas normal.

Sampai beberapa minggu setelah itu, terjadilah kepada diriku sendiri apa yang ditakutkan. Aku saat itu menghadapi masalah personal sehingga mempengaruhi kesehatan fisik ku, jadi sering sekali sakit tapi aku selalu meminta izin untuk istirahat ke team leader dan selalu menyertakan surat sakit dari dokter.

Namun pada suatu hari, karena radang tenggorokan yang semakin parah, aku harus ke RS lagi untuk berobat. Dari pagi aku sudah mengirimkan pesan ke team leaderku untuk izin cuti dan dia pun membalasnya dengan konfirmasi memberikan izin. Pagi itu, ketika aku sedang menunggu dokter di RS, aku tiba-tiba menerima pesan banyak sekali dari teman-teman kerja ku. Mereka menanyakan keberadaan ku dan terdengar panik. Mereka memastikan apakah aku sudah izin ke leader team ku. Jelas sudah. Aku kirimkan ke mereka screenshots percakapan ku dengan team leader dimana dia sendiri mengkonfirmasi izin sakit ku. Sampai-sampai aku fotokan ruang tunggu RS dan kartu pasien ku saat itu untuk membuktikan aku dimana. Aku mulai bingung ada apa sebenarnya.

Rumor menjadi kenyataan

Ternyata disaat yang sama hari itu, satu department sedang ada rapat. Mungkin karena aku juga beberapa hari terakhir jarang terlihat di kantor, saat itu Kepala Department menanyakan ketidakhadiran ku ke leader team ku. Inilah yang membuat optimis ku hilang seketika. Team leaderku menjawab, “Aduh saya juga gak tau, saya gak pernah dikasih tau dia kemana setiap dia gak masuk,” dan itu di dalam sebuah rapat besar satu department. Gak heran teman-teman ku seketika panik menghubungi ku.

Ketika aku kembali masuk ke kantor, aku dipanggil oleh Kepala Department dan ditegur habis-habisan. Padahal aku sudah mencoba membela diri dengan memberikan bukti semua screenshots percakapan ku dengan leader team terkait izin sakit dan juga surat sakit dari dokter tempat ku berobat. Tapi entah bagaimana, penjelasan ku tidak diterima. Mulai saat itu lah, pandangan ku terhadap team leader ku berubah 180 derajat. Entah apa yang disampaikan team leader ku ini ke Kepala Department sampai bukti-bukti yang ada pun seakan-akan tidak valid.

Yang terjadi ini adalah sebuah tamparan untuk keoptimisan ku. Aku benar-benar belajar bahwa desas-desus itu ada pasti bukan tanpa alasan, dan optimis bukan berarti tidak bisa menerima realita bahwa kadang desas-desus itu bisa benar adanya.

Kategori: Drama Kantor

Baca Juga:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments