Professional Terbatas Tembok Kepentingan

So guys, ini cerita gue menyambung sebelumnya. Boleh baca dulu disini kalau belum baca. Jadi kebetulan gue memutuskan pindah kan gara-gara mau nikah dan mencari tempat yang lebih baik dari segi worklife balance. Di tahap ini, gue udah ada pengalaman sekitar 1,5 tahun dan kebetulan headhunter kontak gue dan menawarkan posisi tersebut.

Again, gue research dulu companynya and turns out they are market leader in the industry juga, US company and said to be one of the best employer in the world. Well, setelah serangkaian proses dan akhirnya gue keterima. YEAY!!! You know what? Jam masuk flexible, boleh office atau on-site atur-atur sendiri, aturan kantor lebih relax, manageable pressure, make sense micro manage. BUT WAIT! This all sounds to good to be true hahaha. Sebelum kesana gue cerita dulu awalnya.

Photo by charlesdeluvio on Unsplash

Cerita ga jauh dari yang namanya boss, manusia yang ntah gimana caranya bisa jadi boss dengan personality yang terbilang unik. Unik to the point mereka somehow punya sisi terang dan gelap masing-masing. Di kantor ini, karena semua lebih open dan relax, gue mencoba lebih vocal untuk speak up strategi market berdasarkan pengalaman sebelumnya. AT FIRST, they were impressed and appreciate it. One thing that I didn’t realize is there are times where openness has limit. A limit where you must not crossed to save your own bum.

Mungkin lu yang udah pernah kerja di beberapa tempat paham bahwa tidak ada company yang benar-benar sempurna dan pada saat itu gue merasa sangat confident, karena at some point pengalaman gue lebih dari cukup untuk get the job done. But well, as you can guess it, it was NOT!

Ada momen dimana pegawai boleh memberikan masukan pada suatu evaluasi meeting untuk menentukan strategi 3 bulan ke depan melihat hasil dari 3 bulan kebelakang. Jujur, gue melihat dari management push banyak hal tetapi tidak diikuti support yang cukup, system yang memadai, dan terpenting leadership yang MATANG. At least ini yang gue lihat pada saat itu.

Melihat semua ketidaksesuaian tersebut, di dalam meeting gue mengkritisi disertai solusi dengan cukup vocal pada setiap aspek yang tidak membantu dalam business development dan tujuan perusahaan. But well, saat itu gue sadar bahwa semua udah terlambat . I just crossed the RED Fvkin LINE!??? Terlihat hari hari berikutnya, boss gue amat sangat bete, walaupun di mulut dia bilang “No Hard Feelings” , imagine what happens next: undeniable toxic situation happened.

Disitu gue belajar, seterbuka apapun company nya, se open-minded, seinternational apapun. Sefakta apapun yang lu sampaikan, tapi kalau itu bukan hal yang ingin mereka dengar, KELAR HIDUP LU! Karena dibalik semua fakta yang ada, ada kepentingan orang-orang lain yang harus dijaga, ada sugarcoat yang necessary untuk jaga image nya para bos-bos tersebut, in short, POLITIK GENGS. Jadi mari kita bersikap professionally low profile and bright but always be clever to read the air.

CHEERS!!!

Kategori: Drama Kantor

Baca Juga:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments