Strategi Banting Setirku ke Start-Up

Gue mau cerita mengenai pengalaman gue banting setir dari manufaktur ke start-up. Alasan gue pindah itu karena gue kerjanya tuh gabisa kerjaan yang monoton tiap harinya sama. Gue prefer kalau kerjaan gue terlibat di project yang beda-beda karena ada specific time, specific scope, dll jadi beda-beda dari project satu ke project-project lainnya.

Photo by Daria Nepriakhina 🇺🇦 on Unsplash

Waktu gue di manufaktur, gue ikut project TPM (Total Productive Maintenance). Dari sini gue belajar banyak mengenai project, meskipun projectnya tuh beda sih sama project di start-up. Walau beda, tapi inilah modal gue cerita mengenai project management untuk gue pindah kerja, tentunya dengan gue kemas lebih menarik.

Jadi, trigger gue ingin pindah ke startup tuh karena gue kenal beberapa orang yang kerja di start-up dan 2018 lagi hype banget start-up. Kebetulan mantan gue kerja di startup ojol dan terus dia menceritakan pengalaman gimana dia kerja di start-up kayak lo ga harus 8 to 5 dan lebih ke result oriented, dimana gue disini harus masuk teng jam 8 dan pulang jam 5 padahal selama 8 jam itu belum tentu semuanya bekerja, tapi gue harus tetap hadir. Satu hal yang gue notice adalah gue kalo ngobrol sama dia tuh gue ngerasa kok dia broad knowledge banget, kayak lo kok keep update banget sama banyak hal, sedangkan gue ga ngerti apa-apa di Cikarang. 

Walau ada keinginan untuk gue pindah, tapi gue tetep ngerasa “Emang gue bisa pindah dari manufaktur ke start-up?”. Dari situ gue mulai cari-cari gue pengen jadi apaan di start-up. Dulu gue sempet tertarik sama data dan project/product manager. Balik lagi ke pertimbangan gw yang gabisa kerja ngulik hal yang sama, maka pilihan gue jatuh kepada yg kedua. Kebetulan,  job gue ketika di manufaktur itu sebagai produk, lebih tepatnya homologation engineer, ngurusin produk band gimana bisa lolos sertifikasi di berbagai negara.

Walau beda product yang dimaksud, gue sambung-sambungin sekarang dengan job desc product manager di startup dan gue ganti job title gw di CV jadi product manager (dengan diskusi sama atasan gw juga tentunya) untuk bridging.

Pro-tips no 1: Sambung-sambungin jobdesk lo sekarang dengan job desc posisi yang lo apply.

Awal-awal gue sebar cv tuh lumayan lama ga ada yang panggil buat interview, terus gw inget banget mantan gue tuh bilang gini, “Kamu tuh nggak bisa samain semua cv buat apply ke semua perusahaan. Emang umpan yang kamu kasih kalo mau mancing ikan hiu sama ikan mas sama?” Gue merasa tertampar banget abis denger ini. Akhirnya gue ganti semua cv gue jadi personalized. Lalu bener dong, akhirnya banyak yang panggil gue, ada sekitar 5 start up panggil gue untuk interview saat itu. Sumpah rasanya seneng banget. 

Pro-tips no 2: Selalu customize CV lo berdasarkan perusahaan yang lo lamar.

Ketika gue mau interview, gue tetep belajar karena gue sadar product yang gw kerjain sekarang tuh beda dengan product yang dimaksud di lowongan-lowongan yg gue apply. Gue belajar dari youtube, ikut seminar-seminar, nanya sama temen-temen gue juga. Gue belajar sprint review, sprint planning dll dimana gue belajar dari 0. Gue inget banget ada satu startup fintech panggil gue, yang interview gue ada Head of IT, VP Product, dan HR. Pas interview gue lancar jawab, in the end of interview dia tanya product yang gue kerjain apaan lalu dia bilang “Sebetulnya ini bukan product yang kita cari tapi lo bisa jawab semua pertanyaan kita, lo belajar dimana?” Walau gue ga keterima pada akhirnya, tapi gue seneng karena hasil belajar gue ada yang acknowledge. Gue lanjut ikut interview-interview dan tes tulis pun gue kerjain.

Pro-tips no 3: Belajar, belajar, dan belajar!

Long story short, gue keterima di 2 start-up sebagai associate product manager di startup financing lokal dan project manager di startup financing Cheko. Tapi gue ambil yg project manager purely karena benefitnya lebih oke walaupun secara title gue lebih prefer yang product manager. Disana gue belajar banyak banget dan gue sangat amat enjoy dengan pekerjaan gue ini. Kebetulan gue diassign pegang project integrasi dengan e-commerce dan ini menjadi jualan gue pindah ke perusahaan sekarang, toko oren.

Baca Juga:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments